AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH
Dari Sawah ke Pasar, dari Lahan ke Layar: Ketika Petani Bertransaksi di Era Digital
Pak Karto berdiri di tengah sawahnya yang menghijau. Ponsel di tangannya bukan untuk main game atau buka Facebook, tapi untuk memantau kondisi tanamannya. Sensor tanah yang tertanam di beberapa titik mengirim data ke ponselnya: kelembaban tanah 78 persen, pH 6,5, suhu udara 31 derajat Celsius. Sistem otomatis memberi rekomendasi: “Sebaiknya irigasi dimulai pukul 16.00 selama 20 menit.” Pak Karto mengangguk puas. Dulu ia harus turun ke sawah setiap hari, mengecek kondisi tanaman secara manual. Sekarang, sawahnya terpantau 24 jam dari genggaman.
Dua minggu kemudian, saat panen tiba, Pak Karto tidak perlu repot mencari pembeli dengan harga layak. Ia membuka aplikasi yang sama, melihat harga pasar terkini, dan menjual hasil panennya melalui sistem lelang digital yang transparan. Pembeli dari berbagai kota ikut menawar. Begitu transaksi selesai, uang langsung masuk ke rekeningnya—tanpa perantara, tanpa potongan tidak jelas, tanpa tengkulak.
Ini bukan cerita fiksi ilmiah. Ini adalah kenyataan yang mulai tumbuh di berbagai daerah Indonesia, berkat sinergi antara agrotech (teknologi pertanian) dan fintech (teknologi keuangan). Dan di pusat sinergi itu, berdiri AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH—sebuah platform yang menjadi jembatan antara lahan pertanian dan pasar digital, antara petani dan konsumen, antara teknologi pintar dan transaksi instan.

Revolusi Digital di Lahan Pertanian
Sektor pertanian Indonesia sedang mengalami transformasi besar-besaran. Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) melalui program Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Digital Sektor Pertanian dan Perikanan 2026 tengah mendorong adopsi teknologi di berbagai daerah. Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menjadi salah satu lokus utama dengan fokus pada komoditas padi dan melon .
Apa saja teknologi yang dihadirkan? Sensor tanah yang mengukur kelembaban dan nutrisi secara real-time, sistem irigasi otomatis yang menyiram tanaman tepat saat dibutuhkan, pemantauan iklim mikro di rumah tanam (screenhouse), hingga sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem dan serangan hama . Semua data ini dikumpulkan dan dianalisis menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) , big data, dan kecerdasan buatan (AI) .
Di sektor perikanan, teknologi serupa juga diterapkan: aerator pintar yang menjaga kadar oksigen dalam kolam, mesin tebar pakan otomatis yang memberi makan ikan tepat waktu, dan perangkat pemantauan kualitas air berbasis IoT .
Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas dan efisiensi, menekan biaya produksi, dan memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data di tingkat lapangan . Petani tidak lagi hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman turun-temurun, tapi juga data ilmiah yang akurat.
Startup Agritech: Menjembatani Petani dengan Teknologi
Revolusi ini tidak hanya digerakkan oleh pemerintah. Startup-startup agritech bermunculan dengan solusi-solusi inovatif. Elevarm, startup asal Bandung, baru saja mengumumkan pendanaan pre-Series A sebesar US$4,25 juta atau sekitar Rp68 miliar .
Elevarm fokus pada peningkatan produktivitas petani kecil dan promosi hortikultura berkelanjutan. Melalui divisi riset internal bernama NextBio, mereka mengembangkan input pertanian berkelanjutan: bibit unggul, pupuk berbasis hayati, dan solusi pengendalian hama ramah lingkungan . Semua diproduksi di greenhouse canggih untuk memastikan konsistensi dan ketahanan tanaman.
Yang menarik, Elevarm juga mengembangkan aplikasi berbasis AI yang memberdayakan tim lapangan dengan wawasan real-time dan rekomendasi presisi . Petani yang menggunakan aplikasi ini mendapatkan manfaat nyata: manajemen hama terintegrasi, sistem irigasi optimal, dan teknik tanam canggih. Saat ini, Elevarm telah mendampingi lebih dari 15.000 petani di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta .
Bayu Syerli, CEO Elevarm, menjelaskan bahwa akses terhadap bibit dan pupuk berkualitas selama ini menjadi tantangan besar bagi petani kecil. Elevarm hadir mengubah itu semua, dengan membuat kebutuhan pokok pertanian berkualitas menjadi terjangkau dan mudah diakses .
AI untuk Petani: Dari Laboratorium ke Lapangan
Penggunaan AI dalam pertanian Indonesia tidak hanya berhenti di startup. Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Indosat Ooredoo Hutchison dan NVIDIA mengembangkan riset Multimodal AI untuk Pertanian Presisi Tropis .
Apa artinya? Sistem ini mengintegrasikan data dari drone, citra greenhouse, sensor hiperspektral, dan data IoT iklim mikro ke dalam platform edge-cloud berbasis NVIDIA . Tujuannya untuk mendeteksi stres tanaman, menganalisis kanopi, mengidentifikasi penyakit, dan mengintegrasikan kondisi lingkungan secara real-time. Teknologi seperti NVIDIA Jetson, TAO Toolkit, TensorRT, dan Metropolis digunakan untuk mewujudkan ini .
Peneliti dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM menekankan bahwa kolaborasi ini menciptakan peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian presisi berbasis data yang lebih komprehensif. Teknologi edge AI memungkinkan analisis real-time di tingkat lapangan, sementara konektivitas 5G mendukung transmisi data dari lokasi pertanian ke sistem komputasi terpusat .
Di tingkat yang lebih praktis, aplikasi seperti Elevarm App dan Pak Dayat (chatbot agronomi berbasis AI) telah diuji coba langsung dengan petani di lapangan . Pak Dayat, misalnya, dapat diakses melalui WhatsApp dan memberikan saran pertanian melalui teks, suara (IVR), dan unggahan foto dalam Bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah .
Petani dan Transaksi Digital: Sidrap sebagai Percontohan
Namun, teknologi canggih di sawah tidak akan lengkap tanpa sistem pembayaran yang memadai di hilir. Di sinilah peran QRIS menjadi krusial. Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, menjadi salah satu daerah percontohan yang mengarahkan petani dan peternak untuk menggunakan QRIS dalam setiap transaksi .
Bupati Sidrap, Syaharudin Alrif, menegaskan bahwa penerapan QRIS di sektor pertanian dan peternakan diharapkan dapat membuat transaksi lebih praktis, aman, dan transparan . Kabupaten Sidrap sendiri dikenal sebagai lumbung pangan nasional—penghasil beras terbesar di Sulawesi dan penyedia telur ayam bagi kebutuhan masyarakat .
Tidak hanya untuk jual beli hasil panen, QRIS juga digunakan untuk pembelian kebutuhan usaha para petani dan peternak . Bahkan, penerapan QRIS di Sidrap telah meluas ke berbagai layanan publik: pembayaran PBB, pajak hotel, restoran, retribusi pasar, hingga donasi di masjid-masjid .
Langkah ini sejalan dengan upaya nasional memperluas ekosistem keuangan digital dan mendorong inklusi keuangan, terutama di sektor-sektor produktif seperti pertanian dan peternakan .
Belajar dari Sleman: Lelang Digital dan Kemandirian Petani
Contoh inspiratif lain datang dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ribuan petani cabai di sana kini tidak lagi menggantungkan nasib pada tengkulak berkat sistem lelang digital yang dikelola Koperasi PPHPM, binaan Bank Indonesia .
Saat panen raya, pasokan cabai bisa mencapai 10 hingga 15 ton per hari. Semua hasil panen ditampung, disortir, dan dijual melalui lelang berbasis aplikasi digital tertutup. Harga tertinggi otomatis menjadi pemenang. Proses yang dulu penuh risiko dan negosiasi kini berlangsung adil, aman, dan akuntabel .
Petani tak perlu menunggu lama. Harga untuk tiap petani langsung muncul di sistem dan pembayaran dilakukan saat itu juga, baik secara tunai maupun transfer . Saat ini terdapat 14 titik kumpul cabai di berbagai kecamatan yang menyuplai koperasi setiap sore hingga malam hari.
Dengan sistem digital ini, koperasi tak hanya mengelola transaksi, tetapi juga menyusun kalender tanam strategis, memprediksi harga, dan menjaga stabilitas pasokan. Petani yang dulu merugi karena fluktuasi harga kini bisa merencanakan panen saat harga tinggi . Lebih dari 2.200 petani cabai di Sleman telah tergabung dalam sistem ini, dan sistem ini juga memungkinkan pelacakan produk jika ada keluhan dari pedagang .
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menilai inovasi seperti ini adalah bukti pentingnya sinergi dalam mendorong UMKM naik kelas . Digitalisasi pasar cabai ini juga mendukung pengendalian inflasi, memperluas akses pembiayaan, serta mendorong efisiensi distribusi pangan secara nasional.
TOTO AGROTECH: Menyatukan Teknologi dan Transaksi
Di sinilah AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH mengambil peran. Dalam filosofi TOTO (Total Optimization & Technical Operation) , kami mengoptimalkan dua sisi sekaligus: sisi produksi (agrotech) dan sisi transaksi (QRIS).
Di sisi produksi, platform kami terintegrasi dengan berbagai teknologi pertanian pintar. Data dari sensor tanah, drone, dan sistem irigasi otomatis dapat diakses petani melalui dashboard yang sama dengan aplikasi toko QRIS. Petani tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi—semua informasi tentang lahan, tanaman, dan pasar tersedia dalam satu genggaman.
Di sisi transaksi, QRIS menjadi bahasa universal yang menghubungkan petani dengan pembeli. Setelah panen, petani bisa langsung menjual hasilnya melalui sistem lelang digital atau toko online terintegrasi. Pembayaran masuk langsung ke rekening, tercatat otomatis, dan bisa digunakan untuk membeli kebutuhan produksi berikutnya.
Data dari GSMA menunjukkan bahwa petani Indonesia sangat membutuhkan informasi harga pasar dan peramalan permintaan untuk membantu mereka menentukan waktu jual yang tepat dan menegosiasikan harga yang lebih adil . Platform kami menjawab kebutuhan ini dengan menyediakan data harga real-time dan analisis tren pasar.
Ekosistem yang Saling Menguatkan
Yang membedakan AGEMBET 5000 dari platform lain adalah pendekatan ekosistem. Kami tidak hanya menyediakan teknologi, tetapi juga membangun koneksi antara berbagai pihak:
-
Petani mendapatkan akses ke teknologi budidaya modern, input pertanian berkualitas, dan pasar yang adil.
-
Koperasi dan kelompok tani mendapatkan sistem manajemen terpadu untuk mengelola anggota, panen, dan distribusi.
-
Pembeli dan industri mendapatkan pasokan berkualitas dengan harga transparan dan rantai pasok yang dapat dilacak.
-
Pemerintah dan lembaga riset mendapatkan data agregat untuk perencanaan program dan riset lebih lanjut.
Program KOMDIGI di Ngawi menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dasar (jaringan internet, listrik, sumber air) dan kesiapan kelompok tani sebagai penerima manfaat . Platform kami mendukung ini dengan menyediakan mode offline untuk daerah dengan koneksi terbatas, serta program pendampingan bagi petani yang baru pertama kali menggunakan teknologi digital.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Tentu saja, perjalanan menuju pertanian digital tidak selalu mulus. Studi GSMA mengidentifikasi beberapa tantangan utama :
Pertama, rendahnya familiaritas dengan alat digital. Sebagian besar petani belum terbiasa dengan layanan agritech digital, bahkan alat dasar seperti aplikasi cuaca. Solusinya, chatbot bertenaga suara (voice-enabled) terbukti sangat membantu, memungkinkan petani dengan literasi rendah berinteraksi dengan mudah. Fitur unggahan foto juga membuat interaksi lebih praktis dan menarik .
Kedua, masalah kepercayaan. Petani sering bertanya-tanya siapa di balik teknologi ini dan bagaimana informasi dihasilkan. Ketika berinteraksi dengan chatbot AI, beberapa petani mengira mereka sedang berbicara dengan penyuluh manusia. Ini menunjukkan pentingnya literasi digital dan pendampingan manusia untuk membangun kepercayaan .
Ketiga, akurasi sebagai penggerak kepercayaan. Dalam satu kasus, petani menemukan ketidakakuratan informasi harga pasar dari chatbot AI, yang menyebabkan petani lain kehilangan kepercayaan. Ini menunjukkan betapa cepatnya ketidakakuratan dapat mengikis kepercayaan, dan betapa pentingnya data akurat sebagai tulang punggung solusi AI .
Keempat, keterbatasan konektivitas. Akses internet terbatas di beberapa daerah pedesaan menghambat kinerja optimal teknologi. Solusinya, kolaborasi dengan operator jaringan untuk memperluas konektivitas dan pengembangan fitur offline menjadi kunci .
Masa Depan: Pertanian Cerdas, Transaksi Instan
Ke mana arah AGROTECH dan QRIS ke depan? Kolaborasi antara UGM, Indosat, dan NVIDIA memberikan gambaran: multimodal AI yang mengintegrasikan berbagai sumber data untuk analisis yang lebih akurat, edge computing yang memproses data di lokasi tanpa perlu mengirim ke cloud, dan konektivitas 5G yang memungkinkan transmisi data real-time dari lahan terpencil .
Di sisi lain, QRIS akan terus berkembang. Dari sekadar alat bayar, ia akan menjadi identitas digital petani—menyimpan tidak hanya riwayat transaksi, tetapi juga data lahan, sertifikasi produk, dan akses ke program-program pemerintah.
Bayangkan seorang petani di masa depan: ia bangun pagi, membuka aplikasi, melihat kondisi tanamannya dari sensor di lahan. Sistem merekomendasikan waktu panen terbaik berdasarkan analisis pasar. Ia memanen, menjual melalui lelang digital, dan uang langsung masuk. Semua tercatat, semua transparan, semua dalam genggaman.
Kesimpulan: Dari Lahan ke Layar, dari Petani ke Pemilik Masa Depan
AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH adalah jawaban atas kerinduan akan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil dan berkelanjutan. Ia mempertemukan teknologi canggih di lahan dengan sistem pembayaran modern di pasar. Ia memberdayakan petani untuk tidak hanya menjadi penghasil, tetapi juga pengelola bisnis yang mandiri.
Dari Ngawi yang menyiapkan infrastruktur digital untuk padi dan melon , dari Sidrap yang mendorong petani dan peternak menggunakan QRIS , dari Bandung yang mengembangkan startup agritech , dari Sleman yang membangun lelang digital , dan dari UGM yang merancang AI untuk pertanian presisi —semua adalah potret masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Selamat datang di era baru pertanian digital. Selamat bergabung di AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH.
FAQ AGEMBET 5000: SITUS TOKO QRIS & TOTO AGROTECH
1. Apa yang dimaksud dengan “TOTO AGROTECH”?
Jawaban: TOTO AGROTECH adalah perpaduan antara filosofi TOTO (Total Optimization & Technical Operation) dengan teknologi pertanian modern (agrotech). Ini adalah ekosistem yang mengintegrasikan teknologi budidaya pintar (IoT, sensor tanah, drone, AI) dengan sistem pembayaran digital (QRIS) untuk menciptakan rantai nilai pertanian yang efisien, transparan, dan menguntungkan petani.
2. Apa saja teknologi yang digunakan dalam pertanian digital?
Jawaban: Teknologi yang digunakan meliputi: sensor tanah untuk memantau kelembaban dan nutrisi, sistem irigasi otomatis, pemantauan iklim mikro di greenhouse, drone untuk pemantauan tanaman, aerator pintar untuk tambak ikan, serta sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem dan serangan hama . Semua data ini diolah dengan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan rekomendasi presisi kepada petani .
3. Bagaimana petani bisa menjual hasil panen dengan harga adil?
Jawaban: Melalui sistem lelang digital seperti yang dikembangkan Koperasi PPHPM Sleman, petani bisa menjual hasil panen secara transparan. Pembeli dari berbagai kota ikut menawar, dan harga tertinggi otomatis menjadi pemenang. Pembayaran dilakukan saat itu juga, tanpa perantara tengkulak . Platform AGEMBET 5000 juga menyediakan fitur serupa yang terintegrasi dengan toko QRIS.
4. Apa peran QRIS dalam sektor pertanian?
Jawaban: QRIS menjadi alat pembayaran universal yang memudahkan transaksi jual beli hasil panen maupun pembelian kebutuhan usaha tani (pupuk, bibit, pestisida). Di Kabupaten Sidrap, petani dan peternak diarahkan menggunakan QRIS agar transaksi lebih praktis, aman, dan transparan . QRIS juga memudahkan pencatatan keuangan dan membangun jejak digital petani untuk akses pembiayaan.
5. Apakah ada contoh startup yang bergerak di bidang agrotech?
Jawaban: Ya, Elevarm adalah startup agritech asal Bandung yang mengembangkan bibit unggul, pupuk berbasis hayati, dan aplikasi berbasis AI untuk petani. Mereka telah mendampingi lebih dari 15.000 petani di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta . Ada juga Pak Dayat, chatbot agronomi berbasis AI yang dapat diakses melalui WhatsApp .
6. Bagaimana dengan riset AI untuk pertanian di Indonesia?
Jawaban: Universitas Gadjah Mama (UGM) bekerja sama dengan Indosat dan NVIDIA mengembangkan Multimodal AI untuk Pertanian Presisi Tropis. Riset ini mengintegrasikan data drone, greenhouse, sensor hiperspektral, dan IoT untuk mendeteksi stres tanaman, penyakit, dan kondisi lingkungan secara real-time . Teknologi ini akan membantu petani mengambil keputusan lebih tepat.
7. Apakah petani di daerah terpencil bisa mengakses teknologi ini?
Jawaban: Program KOMDIGI 2026 di Kabupaten Ngawi dirancang untuk menjangkau petani di berbagai lokasi, termasuk desa-desa . Platform AGEMBET 5000 juga dilengkapi mode offline untuk daerah dengan koneksi internet terbatas. Namun, tantangan konektivitas masih ada dan perlu diatasi bersama pemerintah dan operator jaringan .
8. Apa manfaat sistem lelang digital bagi petani?
Jawaban: Sistem lelang digital memberikan transparansi harga, pembayaran instan, dan kemandirian dari tengkulak. Petani di Sleman yang menggunakan sistem ini kini bisa merencanakan tanam berdasarkan prediksi harga, dan hasil panennya bisa dilacak hingga ke konsumen akhir . Sistem ini juga membantu menjaga stabilitas harga di tingkat nasional.
9. Apakah platform ini hanya untuk petani besar?
Jawaban: Tidak sama sekali. Platform ini dirancang untuk petani kecil yang selama ini sulit mengakses teknologi dan pasar. Elevarm, misalnya, fokus pada smallholder farmers . Program KOMDIGI juga menyasar kelompok tani sebagai penerima manfaat . Dengan biaya terjangkau dan pendampingan intensif, petani kecil bisa naik kelas.
10. Bagaimana masa depan pertanian digital di Indonesia?
Jawaban: Masa depan pertanian digital Indonesia adalah integrasi antara teknologi budidaya pintar, sistem pembayaran digital, dan akses pasar yang adil. Dengan dukungan pemerintah, startup, akademisi, dan platform seperti AGEMBET 5000, petani Indonesia akan semakin berdaya, produktivitas meningkat, dan ketahanan pangan nasional semakin kuat